Tumbuhkan sikap empati melalui 3 kata ajaib : Terima kasih, Maaf, Tolong

08 July 2018 - Kategori Blog

Mengapa memperkenalkan 3 kata ajaib ini pada anak sejak usia batita ?

Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, artinya manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan dan tercipta hubungan komunikasi, termasuk ucapan – ucapan salam seperti Terima Kasih, Maaf, dan Tolong. Terkadang ucapan salam tersebut dianggap sepele dan dilupakan, padahal jika kita membiasakan mengucapkan ketiga kata tersebut akan berdampak positif pada orang lain disekitar kita bahkan diri kita sendiri.

Source : Pixabay

Usia batita adalah saat yang tepat memperkenalkan hal – hal baik dan mengajarkan kata – kata dan perilaku yang sopan.

Mengapa ?

Bayi usia 18 bulan – 2 tahun adalah usia anak sedang belajar menggunakan kata – kata sifat, contohnya bagus, jelek, panas, dingin, besar, banyak, dan lain – lain.

Batita usia 2 -3 tahun adalah usia anak yang tidak selalu egosentris, anak mulai menjadi lebih sosial, mulai mengenal bermain dan berteman. Di usia ini anak mulai bereksplorasi, observasi yang kemudian meniru dan berkembang.

Jadi di usia inilah saat yang tepat mengajarkan perilaku yang baik dan kata – kata baik seperti “terima kasih, permisi, tolong, dan maaf”, dan sebagainya.

Source : Pinterest

Bagaimana cara yang paling efektif ?

1. Jadilah contoh dan memberi contoh langsung pada saat anak beraktivitas.

Anak belum mengerti tentang baik dan buruk, Pada usia inilah selain memberinya pemahaman mana yang baik dan mana yang buruk. Yang paling mudah mereka lakukan adalah meniru, anak adalah peniru yang ulung, maka tepatlah disaat ini sebagai orang tua memberikan contoh secara langsung.

Misalnya :

” terima kasih adik sudah membantu mama membersihkan meja”

” tolong ambilkan pensil ya kak..”

” maaf yaa.. kita belum bisa pergi sekarang”

” ayo, minta maaf karena adik sudah memukul”

2. Ajarkan secara berulang.

Batita pada umumnya suka mengulang untuk hal – hal yang sama, misalnya bertanya untuk hal yang sama atau minta dibacakan cerita yang sama tanpa bosan. Proses bertanya atau belajar hal – hal yang sama adalah fitrah bagi kehidupan seorang anak, ini dikarenakan pada masa pertumbuhannya sel-sel neuron otak anak tidak begitu saja menelan setiap informasi, oleh karena itu si kecil akan selalu mempertanyakan berulang – ulang sebelum disimpan lekat dalam ingatannya. Mommy dan daddy jangan bosan menghadapi pertanyaan si kecil yang berulang ini yaa.. karena sebenarnya si kecil ini sedang mengembangkan keingintahuannya dan kreatifitasnya.

Di kesempatan lain, bisa juga si kecil menuturkan pertanyaan yang sama karena mencari perhatian mommy dan daddy, mungkin mommy dan daddy sedang tidak fokus saat memberikan jawaban pada si kecil, usahakan pada saat menjawab pertanyaan mommy dan daddy fokus dan upayakan ada kontak mata dengan si kecil, karena di saat – saat seperti inilah mommy dan daddy bisa mengajaknya berkomunikasi dan berdiskusi sambil mengembangkan penggunaan 3 kosakata ajaib tersebut.

 

Source : Pixabay

3. Minta anak mempraktekkannya.

Setelah memberikan pemahaman pada si kecil, minta si kecil untuk mempraktekkannya pada orang terdekatnya dulu seperti pada kakak atau adik. Selanjutnya mulai mengajaknya memberanikan diri untuk mengucapkan ketika berinteraksi dengan orang lain.

Mengenalkan perilaku dan kosakata kesopanan saat berkomunikasi dengan orang lain, si kecil akan mulai membentuk dirinya menjadi lebih sopan dan dapat mengapresiasi nilai – nilai positif. Dengan demikian si kecil mulai belajar menghargai orang lain, berbesar hati mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya, membantunya mengasah empati pada orang lain yang mendorong si kecil untuk “bertanggung jawab” atas perbuatannya, dan tentu saja membantu  si kecil meningkatkan kecerdasan emosionalnya.

Saat mengucapkan kata “tolong”, mommy dan daddy bisa mencontohkan bahwa ia sungguh-sungguh meminta bantuan orang lain. Setelah dibantu, ucapkan “terima kasih” juga dilakukan dengan tulus. Dengan pengamatannya melalui contoh yang diberikan mommy dan daddy si kecil akan belajar ketulusan dan kesadaran bahwa ia membutuhkan orang lain.

Sumber : lifestyle.kompas & Orami.

*Egosentris : menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran (perbuatan); berpusat pada diri sendiri (menilai segalanya dari sudut diri sendiri) ~ KBBI

, , , , , , , , , ,

 
Chat via Whatsapp